TUGAS JURNALISTIK 2 : ARTIKEL

Interaksi Sosial di Masa Pandemi

Oleh : Ahmad Maghfur Oktavian


Wabah Covid-19 telah merubah segala aspek kehidupan, mulai dari cara kita menjaga kebersihan, berinteraksi sesama lingkungan sekitar, bahkan sampai cara kita beribadah. Segala sektor ekonomi, budaya, kehidupan, sosial menjadi kacau balau.  Seluruh dunia dibuat gempar dengan kemunculan virus Corona. Ini menandakan betapa bahayanya virus corona jika tidak ditanggapi serius oleh kita semua.

Manusia sebagai mahluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi, dengan teman, keluarga, dan orang lain. Hal ini sudah menjadi kebutuhan tersendiri, karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya hubungan sesama manusia. Interaksi sosial bisa disebut sebagai suatu proses saling mempengaruhi tindakan antar individu dan juga kelompok melalui simbol-simbol dan bahasa. Namun apakah bisa kita berinteraksi secara normal di masa pandemi ini?

Dengan semakin majunya zaman ini, manusia bisa saling berhubungan melalui koneksi internet. Dulu, jika manusia ingin berkomunikasi jarak jauh, medianya hanya surat yang dikirim ke kantor pos. Itu pun sampainya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kini dengan adanya internet, dalam hitungan detik saja, kita bisa mengirim pesan. Tak peduli sejauh apa manusia berkomunikasi. Bahkan dengan tatap muka juga bisa. Seperti yang saya alami, jika kangen dengan teman-teman maka saya akan video call.

Dengan begini, Kita seharusnya bisa tetap berdiam diri di rumah. Jika selama pandemi bosan, kita bisa bermain game online, chattingan, dan tetap produktif. Tetap mematuhi seluruh protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Karena virus ini hanya bisa dilawan jika seluruh masyarakat mempercayai apa saja kebijakan yang ditetapkan pemerintah.

Jika dilihat dari website resmi gugus tugas percepatan penanganan covid-19, kasus positif di Indonesia terus bertambah. Sampai tanggal 26 Juni 2020 kasus positif mencapai angka 51.427. Ini menandakan masyarakat masih kurang peduli akan bahayanya virus corona. Padahal pemerintah terus memberikan himbauan, melalui media sosial dan media massa.

Namun kita tidak boleh kecanduan dengan media sosial. Karena secara tidak langsung bisa merubah perlaku individu. Jika dilihat dari Teori Jarum Hipodermik, media massa memiliki pengaruh yang kuat kepada khalayak media atau khalayak massa dan dapat secara sengaja mengubah atau mengontrol perilaku masyarakat. Dalam teori ini, khalayak digambarkan menjadi sasaran dari proses injeksi informasi yang ditembakkan oleh media massa dan khalayak tidak dapat menghindari atau menolak injeksi yang dilakukan oleh media massa.

Tak etis jika kita membicarakan sisi keburukan virus corona. Karena pasti ada hal positif yang bisa kita ambil dari wabah ini. Seperti pemberlakuan Work From Home (WFH) dan PSBB bisa menurunkan rata-rata konsentrasi karbondioksida sekitar 47 ppm atau turun 9,9% dibandingkan tahun 2019. Manusia lebih peduli akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Lebih banyak waktu bersama keluarga karena lebih banyak beraktivitas dirumah. Dan masih banyak hal postitif yang bisa kita ambil.

Begitulah sekiranya artikel ini. Semoga setelah membaca artikel ini, kita bisa menjadi manusia yang peduli lingkungan. Jika ada salah kata maupun salah tulisan, saya Ahmad Maghfur Oktavian sebagai penulis mohon maaf yang sebesar besarnya. Karena tak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan.

Referensi :

https://covid19.go.id

https://pakarkomunikasi.com/teori-efek-media-massa

Nama    :    Ahmad Maghfur Oktavian

NIM    :    190531100117


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS JURNALISTIK 1 : BERITA